Memanen Pusaran

 

Bumi berputar tak berhenti. Binatang ternak mati, raja berganti, tahun demi tahun berlalu. Saat seluruh daging meninggalkan tulang belulangnya tergolek di ladang itu, seluruh kenangan semasa hidupnya tak sempat abadi menjadi puisi. Tidak ada satu pun anggota keluarga, pedagang, atau pelancong yang mengabarkan tentang perempuan itu. Kenangan-kenangan miliknya membatu dan menjadi sebuah buku. Entah sudah berapa windu berlalu, buku kecil itu masih merindukan seseorang yang akan membaca isinya, mengingat kembali kenangan sang puan.

Zaman berganti. Seorang anak tani bernama Djambek menemukan buku itu di ladang yang ia warisi dari kakeknya. Buku itu ditulis dalam bahasa asli kampungnya, di buku itu Djambek tidak menemukan apapun tentang beternak atau berladang, di dalamnya hanya ada diam. Djambek membaca kesepian lalu kesepian yang lain di setiap halaman dalam buku itu. Buku itu berisi suara-suara tanpa mengisahkan dari mana asalnya, tatapan kosong yang tak menceritakan panorama macam apa yang dilihatnya. Perempuan itu meninggalkan bukunya agar Djambek bisa menemukan dan mengingatnya.

Lagi-lagi waktu berlalu pergi dan datang kembali. Djambek tumbuh besar menjadi kegagalan. Anak satu-satunya yang tak bisa meneruskan nama ayah dan ibu yang telah lama mendahuluinya mati. Tidak ada gadis dari kampungnya, atau dari kampung lainnya, yang bersedia menemaninya. Djambek dulu memiliki banyak kawan tapi dia menyakiti mereka hingga semua orang kini membencinya. Djambek selalu bingung. Dia pikir dia adalah seorang tuan, dia pikir dia adalah pemilik tanah. Djambek terus menunggu hingga semuanya berlalu. Djambek begitu mencintai waktu.

Badan wadag mencerna jasad fana lainnya. Seorang buta juga memakan makanan, akan tetapi orang dengan penglihatan terus makan tanpa melihat apa yang disantapnya. Belasan tahun hidup tanpa penglihatan, pikiran dipenuhi bayang-bayang, kerbau juga gadis berambut keemasan dengan bulir-bulir padi di tiap helainya. Djambek percaya ada dunia yang lain, bahwa dunianya tidaklah nyata. Djambek selalu menceritakan apa yang dipercayainya, Djambek tak pernah bisa berteman, orang-orang membicarakan pasar dan kerajaan. Djambek tidak percaya pada pedagang, menurutnya raja bukanlah manusia. Djambek sering melihat Tuhan di mata gadis-gadis cantik, Djambek yang kesepian terus menunggu mereka. Namun, Djambek tak pernah berani bicara pada satu pun di antara mereka, tiada gadis yang memperhatikannya. Djambek marah dan mendendam.

Kemarahan pada seorang cerdas menjadi kebajikan. Kemarahan pemuda akan menjadi kerja. Kemarahan Djambek melampaui nuraninya, menghapus seluruh ingatan tentang siapa ia sebenarnya. Saat kemarahan pergi, dia tak merasakan apapun. Djambek masih kesepian.

Satu-satunya ingatan Djambek adalah buku itu. Mengingatnya membuatnya terkenang pada masa kecilnya. Buku itu diawali kisah tentang kegelapan, diikuti munculnya sebuah cahaya yang membawa lautan. Buku itu menciptakan dirinya, kini Djambek tak bisa lari ke mana-mana. Djambek berulang kali mencoba mengisahkan kembali buku yang tak bisa diingatnya itu dengan bahasanya sendiri dan berakhir menjadi sebuah tragedi komedi. Djambek merasa makin kesepian.

Buku itu kini berbicara dengan suaranya sendiri, setiap pagi dan sore Djambek mendengar buku itu bernyanyi dengan bahasa yang tak dipahaminya. Sejak lama Djambek berusaha memahami orang-orang, berbicara dengan mereka. Kini ia tak bisa memahami apapun, Djambek memutuskan untuk tidak lagi bicara.

Djambek terus menua, raganya kini enggan diajak bekerja. Berladang, menanam dan merawat lalu memanen hasilnya. Menghalau rumput dan hama, juga mencukupi airnya, mencintai dengan sepenuhnya. Kini semua sudah percuma, pikirnya. Padi dan jagung juga berhak atas kebebasan yang dimiliknya, berhak atas akhir dari segalanya. Djambek yakin hal ini adalah keputusan terbaiknya, ia tidak akan berpura-pura merasakan sesuatu yang tak dirasakannya. Serangga dan burung-burung pun berhak makan dari ladangnya, Djambek tak akan mengusir apalagi menyakiti mereka. Seluruh tanaman bukan budaknya, Djambek telah memerdekakan mereka, lagipula mereka juga tidak mengharapkan dirinya.

Para tetangga hanya diam melihat tingkah lakunya, menurut mereka Djambek masih bugar dan bisa mandiri merawat dirinya. Ladang yang luas itu kini terbengkalai, para tetangga diam-diam berharap Djambek cepat mati agar mereka bisa mengambil tanahnya.

Padi dan jagung layu rebah di tanah merah, membusuk bersama empunya. Kehidupan terus berjalan, Matahari tenggelam sampai merasa cukup dengan tidurnya.

Djambek tak lagi memaksa dirinya. Saat seorang petani sudah merelakan ladangnya, maka tak seharusnya ia membunuh rumput dan alang-alang. Entah apapun itu, ia tak berhak mengakhiri nyawa mereka. Semak dan rerumputan akan terus hidup, bila Bumi membutuhkan petani maka Bumi akan terus memberinya makan dan penghidupan.

Saat seorang petani pasrah meninggalkan tanahnya, hujan tetap menjalankan tugasnya. Hujan menumbuhkan jamur di tanah dan kayu-kayu yang menyusun rumah. Hujan akan melahirkan rayap dan ulat, mereka yang akan memakan dedaunan dan meruntuhkan bangunan. Hujan akan membusukkan segala sesuatu yang tumbuh dan mati di ladang.

Sampai akhir hayatnya Djambek masih seorang petani, seorang petani yang ingin memahami makna sebuah buku yang sudah lama dilupakannya. Sampai nafas terakhirnya, Djambek tak pernah menyadari bagaimana buku itu merebut kembali ladang dulu pernah dimilikinya.