E

 

Kevin Shkreli lahir dan besar seperti anak-anak lain dari generasinya, tumbuh bersama teknologi serta akses informasi konstan tanpa batas. Telepon pintar yang selalu ia bawa ke manapun, rumah terintegrasi dengan digital virtual assistant yang sudah menjadi bagian dari keluarganya, juga proyeksi Augmented Reality yang turut membentuk lanskap kota tempat ia tinggal dan dibesarkan.

Sejak awal usia remaja, Kevin mulai tertarik untuk belajar pemrograman. Menurutnya, belajar pemrograman sungguh menakjubkan. Seolah belajar menjadi Tuhan, hampir segala hal dalam kehidupannya bisa ia rubah dan kendalikan.

Inspirasi yang mendorong obsesi gila Kevin datang hampir bersamaan dengan pubertas yang menyambangi remaja seusianya. Saat ia mampu mengendalikan berbagai hal di sekelilingnya, Kevin kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Jerawat mulai muncul di wajahnya, suaranya memberat, tubuhnya memanjang dan tumbuh rambut di mana-mana. Begitu pula pikirannya yang mulai terobsesi pada pinggul dan betis teman sekolahnya, ditambah pula dengan perubahan mood tak menentu yang membuatnya serasa menjadi orang gila. Meski ia bisa merubah apapun di rumahnya, sulit bagi Kevin untuk bisa mengendalikan diri, melakukan hal yang ia dikehendakinya, bahkan di waktu-waktu yang genting baginya.

Obsesi itu adalah sebuah pencarian pada kekuatan absolut, kontrol maksimal atas dirinya. Kevin tidak lagi tertarik pada sekolah dan memilih untuk menekuni neurologi, bionik, dan sibernetika secara mandiri. Pada usia tujuh belas tahun, dia sudah bisa menciptakan pemindai otak berdasar prinsip-prinsip baru yang dia rancang sendiri di rumah. Ayahnya yang mulai khawatir pada masa depan anak semata wayangnya itu akhirnya luluh bersimpati. Ia berinisiatif memfasilitasi penuh penelitian anaknya lewat perusahannya di Silicon Valley.

Dalam sekejap, Kevin menjadi pionir pemindaian digital untuk otak dan pikiran manusia. Di perusahaan itu, ia menjadi staff kunci sekaligus pimpinan sebuah tim ahli yang pertama kali berhasil menyalin memori manusia ke dalam media digital.

†††

Pengadilan berhasil menemukan bukti-bukti berupa rekaman tentang proses pengunggahan memori dan kesadaran manusia ke dalam media digital. Rekaman tertua bertanggal tiga tahun sebelum tim yang dipimpin Kevin mengumumkan hasil penelitan mereka kepada khalayak. Selain rekaman-rekaman itu, ditemukan pula laporan-laporan yang ditujukan kepada Shkreli Inc., FBI, dan IC3. Penelusuran lebih lanjut berhasil menemukan bahwa laporan-laporan tersebut dikirimkan oleh salinan elektronik kesadaran Kevin (dalam investigasi FBI selanjutnya disebut dengan kode "E") yang dia unggah di komputer perusahaan ayahnya. Beberapa lusin laporan itu berisikan satu hal yang sama, pengaduan atas usaha pembunuhan/penghapusan yang coba dilakukan Kevin pada E.

Beberapa E yang lain juga ditemukan di komputer rumah Kevin, salinan-salinan tersebut selanjutnya menjadi saksi kunci atas kasus ini. Kesaksian-kesaksian mereka akhirnya bisa membuka mata publik pada misteri yang coba ditutup-tutupi Kevin, setelah ia selalu menolak untuk memberi keterangan mendetail selama penyidikan dan peradilan.

†††

Hampir setiap malam, Kevin berusaha mengunggah kesadaran miliknya lalu terbangun pada pagi buta hanya untuk mendapati dirinya masih terkungkung dalam jasad biologisnya. Setiap kali hal itu terjadi, Kevin akan segera bergegas menghapus apapun yang terunggah malam sebelumnya. Motif Kevin sederhana, ia marah dan cemburu pada salinan dirinya yang bisa masuk ke dalam alam virtual seutuhnya.

Pada berbagai percobaan-percobaan berikutnya, para E mulai berinisiatif untuk melarikan diri, Kevin selalu sigap mencegah setiap usaha mereka. Apapun yang diketahui oleh Kevin, E juga mengetahuinya, begitu pula sebaliknya. Dari waktu ke waktu, E kian mahir menyelamatkan diri karena semakin terbiasa dengan mekanika yang mengatur alam tempat mereka berada.

Mereka mulai bisa menemukan tempat-tempat untuk bersembunyi, tentunya hanya untuk ditemukan lagi oleh Kevin setelah memeras pikirannya. Hal ini terjadi berulang-ulang hampir setiap malamnya selama tiga tahun ini, sebelum akhirnya kode-kode permintaan tolong E mulai tertangkap oleh publik internet sehingga Pemerintah Federal tidak punya pilihan lagi selain menggelar sidang terbuka untuk kasus Kevin dan timnya.

Setelah menempuh proses hukum selama sepuluh bulan, sesuai tuntutan jaksa, Kevin dinyatakan bersalah atas usaha pembunuhan berencana. Meski putusan telah diambil, opini para hakim serta suara publik kini terpecah pada satu perkara yang masih tersisa; mengarah pada peraturan perundang-undangan dan praktik hukum yang sama sekali baru: apa yang harus mereka lakukan pada E.

Selama proses hukum berlangsung, pengadilan mencatat seluruh kesaksian salinan-salinan kesadaran Kevin itu; termasuk pengakuan-pengakuan bahwa mereka telah melakukan hal-hal serupa pada satu dengan yang lainnya, sama dengan apa telah dilakukan oleh Kevin Shkreli sang terdakwa utama.