Modernitas Daging dan Kebenaran
Alarm berdering pukul enam. Kedua mataku terangkat menuju pagi yang merah saat asap menyelinap masuk melalui sela-sela jendela kamarku. Kubuka jendela, asap hitam membumbung tinggi di langit. Tak ada waktu untuk mengkhawatirkan semuanya, ada ritual-ritual yang harus segera kujalani, aku harus mensucikan diri agar tetap produktif hari ini. Aku meregangkan tubuh, merapikan kasur dan selimut, tak menyisakan kerutan, tanpa meninggalkan sedikit pun jejak di sana.
Lolongan anjing terdengar dari luar, lalu terdengar teriakan, mungkin dua atau tiga kali. Aku menjawab mimpi buruk ini dengan berteriak sekencang mungkin ke kedua telapak tanganku, mencoba merasakan keberadaanku yang terhubung dengan segala sesuatu di luar sana. Aku berbalik arah, menekan kecemasanku dalam-dalam, mengenakan kacamataku yang berbingkai hitam berkilauan.
Langkahku kian cepat saat mendekati cermin kamar mandi. Aku menusukkan telunjukku ke balik bingkai hitam kacamataku dan menarik kantung mataku ke bawah, memperlihatkan garis putih kekuningan. Aku menyodok ke atas gusiku yang surut dan mengamati wajahku lekat. Penurunan bertahap wajahku sejauh ini masih bisa kuterima, meski tidak relevan.
Sarapan roti panggang dengan olesan margarin kental serta secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Terbersit di pikiranku untuk sejenak menyalakan televisi, menyaksikan berita pagi ini. Mungkin tidak, cukup menyimak suara-suara dari luar kamarku, aku tak menyalakan televisi.
Piyama jatuh ke lantai, kuletakkan kaca mataku di meja kecil di samping tempat tidurku dan kubuka lemari. Daging kerjaku tergantung rapi pada pengaitnya, meneteskan darah ke dalam baki plastik di dasar lemari. Dengan hati-hati kuambil keluar dari pengaitnya dan kukenakan perlahan, meski sudah berulang kali melakukannya, aku tetap saja merasa aneh saat memasuki daging yang hangat dan basah itu. Tubuhku meluncur mengikuti bentuknya, lengan dan kakiku menempati tempatnya dibantu darah dan lendir licin di bawah permukaannya. Kuulurkan kedua tangan dan kakiku, menggerakkan jemariku menempatkan kesemuanya sampai merasa cukup nyaman. Akhirnya aku menunduk dan menarik kepala itu ke bawah menutupi wajahku, perasaan hangat menenangkan kini mengalir menjelajahi pipiku.
Kubawa nampan penampungan ke kamar mandi dan mengosongkannya. Sekali lagi kuperhatikan sosokku di hadapan cermin, mencoba membiasakan diriku kembali dengan wajah rupawan yang kini menatap balik ke arahku. Kugunakan tisu untuk menyeka noda darah yang tertinggal di tepian lubang kedua matanya. Daging ini memang tak sempurna, aku merasa agak kedodoran, kesemuanya tak sepenuhnya menyatu dengan tubuhku. Daging ini lebih terasa seperti sebuah kostum alih-alih perpanjangan dari diriku yang utuh terikat. Kadang aku harus berkonsentrasi penuh pada setiap langkah dan peganganku karena pendarahan bisa saja tiba-tiba terjadi pada setiap gerak berlebihan. Aku harus terus memicingkan mataku, daging kerjaku ini memang sama sekali tak mendukung penggunaan kacamata. Namun, wajahnya tampan, itulah nilai jual utamanya selain harga yang lumayan terjangkau. Daging yang tahan lama dengan wajah ambisius seorang profesional, aku rela menanggung segala ketidaknyamanan ini demi manfaat lain yang bisa kudapatkan di luar sana dengan mengenakannya setiap hari.
Setelah puas, kusemprotkan disinfektan ke dalam lemari dan kubiarkan pintunya terbuka agar angin bisa masuk. Kuambil tas kerjaku dan kuucapkan selamat tinggal pada rumah kecilku yang nyaman.
Ban terbakar menggelinding melintasi jalan, alarm mobil dan sirene meraung di kejauhan, memantul melewati deretan rumah-rumah seragam yang menyerupai sebuah cul-de-sac. Asapnya kian tebal hari ini, baunya semakin menyengat memenuhi udara, tetapi api yang menyelimuti tengah kota belum menyebar sampai ke sini. Kulihat tetanggaku menyiram atapnya dengan selang taman untuk berjaga. Ini pasti hari liburnya, ia tampak mengenakan daging kasualnya, lebih longgar dan basah, tetapi lebih lega. Kulitnya tertekuk terhenti di atas lutut aslinya, kemeja polo putih dan celana pendek warna khaki melengkapi penampilan santainya pagi ini. Kulihat darah menetes di permukaan kakinya hingga ke pergelangan kakinya yang sebenarnya. Ia membalas lambaian tanganku, menatapku dengan ramah tanpa berkedip dari balik lubang matanya yang kendur. Kudengar lagi lolongan anjing dari suatu tempat di luar sana.
Kuseka lapisan abu dari kap sedan kesayanganku dan menampakkan sebuah sobekan kecil pada cat hijau mint yang menenangkan. Aku tak ingat kapan goresan itu muncul, aku mencoba menahan amarahku. Entahlah. Aku masuk ke dalam dan kututup pintu, rapat hingga seisi dunia terbungkam. Aku siap meninggalkan rumahku menuju kekacauan.
***
Kedatanganku disambut oleh sebuah bus terbalik, tergeletak begitu saja di tengah perempatan tak ubahnya seekor binatang yang terluka. Bangunan-bangunan terbakar. Kereta listrik tampak masih berjalan seperti biasa, orang-orang berlarian lalu-lalang. Pabrik-pabrik besar, kecuali yang telah menjadi puing membara, masih memproduksi apa pun yang mereka hasilkan. Cerobong asap mengepulkan awan grafit memenuhi langit di atas horison yang sudah sesak berkabut hitam.
Dengan tenang kukemudikan sedanku melintasi segala macam rintangan, reruntuhan bangunan, dan sampah berserakan. Hiruk pikuk kian penuh menjejali jalanan, semua orang berlari, entah menjauh dari sesuatu atau hendak menuju ke mana, segalanya kacau tanpa arah. Kerumunan membingungkan, teriakan marah dan jerit ketakutan, semua terlihat bak sebuah koreografi kesengkarutan. Bahkan dalam kekacauan ini, orang-orang terlihat mengenakan berbagai macam daging yang trendi dan mengesankan. Beberapa memakai daging formal dengan kepala asli mereka sendiri keluar dari lubang mulut yang diregangkan dengan wajah-wajah datar terkulai ke belakang sebagaimana tudung, mengagumkan. Beberapa hanya memakai kepala atau wajah yang ditarik menutupi kepala asli mereka sebagaimana sebuah topeng. Lalu yang paling mengejutkan, penampilan minimalis basah kuyup tanpa balutan daging sama sekali, mereka lebih memilih mengaplikasikan darah yang menempel tak beraturan menyelimuti tubuh asli mereka. Baru-baru ini aku mendengar tren semacam itu dari seorang kolega di kantor, aku tak bisa mempercayainya sampai melihatnya sendiri sekarang, bertanya-tanya apakah aku berani melakukan hal semacam itu, mungkin diriku yang lebih muda akan melakukannya, entahlah.
Sekilas kulihat polisi mengurung para perusuh di jalan, tetapi setelah kuperhatikan lagi, mereka tampaknya sama-sama tenggelam dalam kepanikan sebagaimana semua orang. Jendela-jendela dan pintu kaca pecah, sebuah mobil menabrak toko pakaian. Anak-anak mengenakan topeng plastik dan kostum karet, masih terlalu muda untuk mengenakan daging, melemparkan batu, sampah,dan lainnya ke segala arah. Para perusuh memanjat bangunan-bangunan di tepi jalan, dengan tangga, dengan puing dan tumpukan sampah, dengan apa saja. Tampak para penghuni menghalau mereka dari jendela, menendang mereka ke bawah atau mengusir mereka dengan guyuran air atau lemparan perabot rumah tangga. Api menjilati gedung-gedung yang menghitam sementara sirine pemadam kebakaran tetap terdengar jauh.
Seorang perusuh tiba-tiba terjatuh di hadapanku, nyaris mengenai kap mobilku. Aku berputar menghindarinya, tetap tenang dalam gelembung hijau mint milikku. Kuperhatikan sosokku di kaca spion, bingkai hitam kacamata berkilauan ke arahku, bertengger aneh di hidung palsuku, sebuah pengingat akan pria malang di bawah lapisan daging kerjaku. Aku melihatnya, jati diriku di sana, penuh keringat dan tertekan, ikal hitam dari rambut aslinya menjuntai keluar dari dahiku. Catatan produksi dari pabrik terbukti benar, daging ini sama sekali tak mendukung segala macam penggunaan kacamata. Sudahlah. Aku harus terus mengemudi, menahan malu mengenakan cacatku. Aku akan melepas kacamata ini sesampainya di kantor. Sementara ini kujejalkan dahulu rambutku ke balik daging kerjaku, menenangkan pria malang di bawah permukaannya agar bisa melanjutkan perjalanan.
***
Kantorku terletak di sebuah gedung, sebuah menara jendela yang bersinar keemasan di bawah redup matahari. Kantorku dikelilingi sebuah taman yang luas, hutan cemara rimbun yang sayangnya tak dapat menghalau kabut panas dari barisan oranye yang terus mendekat. Kuparkir mobil dan berjalan menuju lobi, meninggalkan udara panas di luar. Banyak yang baru sampai, rekan kerjaku, para manajer, staf keamanan, pekerja dari perusahaan lain, semuanya berjalan dengan penuh semangat, mengenakan daging kerja profesional mereka sendiri-sendiri dengan beragam desain yang sangat bervariasi. Rambut-rambut tertata rapi, tubuh kecoklatan yang elegan dengan setelan sutra. Tak terlihat gaya-gaya nyentrik yang kulihat sepanjang perjalanan tadi, bisnis mengharuskan semuanya rapi. Para petugas kebersihan mengenakan daging kelas bawah yang disediakan perusahaan, terus menerus mengepel tetesan lendir dan darah yang berceceran di lantai.
Ke dalam lift penuh sesak, dikelilingi parfum dan wewangian yang berbaur dengan anyir daging menyengat, aku naik dua puluh dua lantai menuju departemenku. Aku berjalan pelan menuju meja kerjaku, duduk dengan tenang di bawah semilir pendingin ruangan. Aku mengetik angka-angka, menulis memo dengan pensil, menjawab panggilan telepon dari waktu ke waktu. Kubuka mulutku di belakang lubang mulut daging kerjaku dan menggerakkan tanganku dalam gerakan yang penuh dengan kehati-hatian. Aku melakukan semuanya sembari memberi salam pada semua orang yang melintasiku, produktivitas mengalir deras di kantorku ini. Sesekali kudengar gemuruh rendah yang memaksaku menoleh ke arah jendela, dari tempatku duduk dapat kulihat hijau taman yang mengelilingi menara ini serta hamparan kota. Kuluangkan waktuku sejenak memperhatikan kepulan-kepulan hitam yang menjamur di luar sana.
Televisi ruang istirahat menayangkan sebuah berita tentang sebuah kapal pesiar yang terbalik. Dikelilingi mayat-mayat terapung, bahan bakar menggenang berkilauan di permukaan air, menyelimuti para penyintas yang berjuang mencari pertolongan. Tepat di samping televisi itu tertempel sebuah poster, iklan dari biro perjalanan menuju pulau musim panas. "Tinggalkan rutinitasmu!" Tertulis dengan fon floral, merah berani di atas air biru dan deretan palem yang bergoyang ditiup angin.
***
Kuseruput teh dinginku dengan sedotan, terdengar deheman familiar dari belakangku. Pasti manajerku, Robert, aku takkan bisa melupakan wajah kerjanya yang dilengkapi fitur senyum abadi, dirancang sedemikian rupa mengabaikan otot-otot emosi pemakainya. Tiada kata terucap dari bibir palsu kami, dia menggaruk kepalanya dan menggerutu pelan. Kuraba pipiku dan kutemukan darah mengalir perlahan. Lubang mata kiriku pasti kendur lagi hari ini, air mata bercampur darah meleleh memenuhi wajahku. Aku merasa teramat malu menyaksikan Robert berdiri menatapku dari balik daging kerjanya yang elegan, buru-buru aku memohon maaf dan bergegas menuju kamar mandi.
Diriku yang sebenarnya ada di sana, di dalam cermin, menatap keluar dari kedua lubang mata yang tak sejajar. Gemetar, tegang, bibir terkatup rapat, menahan teriakan yang sewaktu-waktu bisa saja meledak. Kurapikan lubang mataku, kubasahi tisu dan kuseka darah dari pipiku.
***
Di meja kerjaku, aku tertegun menyaksikan cakrawala terbakar di balik jendela manakala sebuah tangan terjulur menjatuhkan setumpuk berkas di hadapanku. Aku segera mengenali tangan itu, dalam keterkejutan aku menatap wajah yang sama persis dengan wajahku. Kami saling tatap dalam kecanggungan sesaat, mencoba mengendalikan diri menghadapi kebetulan itu. Dua orang dalam daging kerja yang sama bukanlah sesuatu yang tabu dalam lingkungan bisnis, semua sudah biasa dan sangat mungkin terjadi. Akan tetapi, kecanggungan semacam ini wajar pula terjadi. Pria itu tampak tenang, tak terlihat rasa malu atau sungkan dari balik wajah kerjanya. Tak seperti aku, daging yang ia kenakan tampak pas dan profesional. Jika bukan karena kedalaman lubang mata yang umum terlihat pada semua orang yang mengenakan daging buatan, orang pasti akan salah mengira kalau daging yang ia kenakan adalah dirinya sendiri yang asli.
Dia menegakkan tubuhnya, mengangguk kecil dengan penuh percaya diri dan meninggalkanku. Jennifer, rekan kerjaku, atau entahlah, aku tak yakin apakah benar itu namanya, tampak tersipu malu saat pria itu berjalan melewatinya. Menepuk-nepuk pipi berusaha merapikan penampilannya.
Tiba-tiba tubuhku menegang, aku merasa seperti tersesat dan kehilangan kewarasan. Kubayangkan Jennifer menatapku sinis, membandingkan penampilanku dengan pria itu. Bawah sadarku menggerakkan tanganku menarik kacamataku dari saku kemeja kerjaku dan menempelkannya di wajahku. Seketika segalanya tampak jelas, tepian kabur kini menghilang, aku mencoba membangun kembali identitasku sendiri.
Kulihat dengan jelas bagaimana Jennifer dan semua orang menatapku. Aku dapat menyaksikan wajah-wajah tanpa ekspresi mereka, tipis menyiratkan kebingungan juga belas kasihan. Kacamataku jelas memperburuk keadaan, jiwa kompetitif kekanakan telah meluruhkan profesionalitas yang masih ada padaku. Kulepaskan lagi kacamataku perlahan, mencoba berdamai dengan buram yang kini kembali menyelimutiku. Mereka pun kembali mengerjakan tugas mereka, menulis memo, mengetik, menelepon, dan aku pun demikian. Di luar sana kembali terdengar gemuruh pelan, kali ini aku sama sekali tak menghiraukannya, kulanjutkan pekerjaanku dan kubiarkan diriku tenggelam.
***
Di minimarket, bungkusan bumbu-bumbu dan camilan tumpah terbuka berceceran memenuhi lantai, botol-botol anggur pecah juga kaleng-kaleng berserakan. Di tanganku, setumpuk nampan makanan beku. Para pemuda berpakaian compang-camping penuh darah berlarian di belakangku, berdesakan menuju pintu keluar sembari menghancurkan dan merampas apa pun yang masih tersisa. Kumasukkan beberapa nampan beku serta satu pak bir ke dalam keranjang, steak lagi malam ini.
Kasir itu mengenakan busana sederhana, hanya wajah kerja serta rambut yang ditarik menutupi kepalanya seperti kerudung. Seluruh tubuhnya adalah dirinya sendiri yang asli, darah dari wajah menetes menghiasi pakaian dan celemek hijau minimarket yang ia kenakan. Teriakan dan suara benturan meletus. Seorang pria botak bertubuh kekar, seorang lain yang hanya telanjang mengenakan darah, saling dorong sembari berjalan ke arah kasir. Pria botak itu melolong marah sambil meninju kantong-kantong keripik serta mendorong kaleng-kaleng dari rak etalase, melemparkan segalanya ke lantai. Kasir menyerahkan kembalianku, tanpa sedikit pun berkedip sementara lolongan dan suara-suara keras terus berlanjut bersahutan di minimarket itu.
***
Komplek rumahku belum jatuh dalam kobaran api, hanya beberapa kaca jendela yang pecah dari rumah ke rumah. Rumah tetanggaku sepertinya aman, tetapi pintu depannya terbuka lebar sementara bagian dalam rumahnya tampak gelap gulita. Seekor anjing liar menjulurkan kepalanya di ambang pintu dan masuk ke dalam gelap. Kuputuskan untuk mengabaikan semuanya dan membuka kunci pintu rumahku.
Aku duduk di depan televisi, roti dan daging mengepul panas di atas nampan. Kugulir saluran televisi, menunggu dagingku dingin. Berita buruk silih berganti di antara tayangan bincang-bincang yang terus mengolok-olok satu demi satu kabar buruk yang tak berhenti berdatangan. Gambar buram, tetes-tetes darah, mengingatkanku untuk melepas daging kerjaku.
Kutarik mulutnya terbuka, mencoba melebarkannya, tetapi naas, mulut daging kerjaku kaku lagi malam ini. Jauh lebih keras dari biasanya, kucoba mengerahkan tenaga dengan seluruh kesabaranku. Akhirnya aku berhasil menarik keluar kepalaku, panik, kudengar letupan kecil dan semburan darah. Kubayangkan wajah itu hancur, garis rahangnya mungkin takkan kembali seperti semula. Cemas menggelegak di dadaku, lolongan anjing terdengar dari luar, mungkin dari rumah tetanggaku, teriakan-teriakan samar kian jelas mendekat dari kejauhan.
Kuseka darah dari wajahku, wajah asliku, dan kukenakan kacamataku. Kudekati jendela, kutatap keluar ke arah kobaran api. Kepala kerjaku terkulai hancur di atas bahuku. Sudahlah, aku tak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi, lantas kenapa bila daging kerjaku hancur terkoyak, biar saja semua lebur dalam bara api.
Televisi menayangkan iklan, promosi yang sama dengan poster yang kulihat di kantor hari ini. Didukung kementrian kebudayaan, mereka menawarkan sebuah paket perjalanan wisata. Melarikan diri, tinggalkan rutinitasmu, kukecap kata-kata itu perlahan. Getir memenuhi mulutku, kering dan memuakkan, kutatap nanar jingga kemerahan kehancuran segala sesuatu.