Saat yang Tepat Kini Telah Tiba

 

Pisau menyayat tepat di bagian bawah pergelangan tangannya, penonton pun terkesiap, sejenak senyap diikuti gemuruh ledakan tepuk tangan dan teriakan bersahutan.

***

Sembilan puluh menit kemudian, hampir semua lampu padam, menyisakan beberapa yang masih menyala tinggi, memberi terang agar mereka yang tertinggal tak kehilangan pijakan di panggung bertingkat. Set di atas panggung itu mengeluarkan aroma aneh semerbak. Campuran antara lem kayu, serbuk gergaji, serta manis gula, baru sekarang ia mengalami hal semacam ini, tak seperti studio lain yang pernah ia datangi sebelumnya. Ia tersengal, berusaha mengatur napas untuk menghirup udara serta menahan bau yang begitu menyengat.

***

Ia selalu mengambil jalan setapak melalui taman kota dalam perjalannya menuju dan pulang dari kantor kecuali saat hujan deras. Meski harus berjalan memutar cukup jauh, tetapi ia sangat menyukai udara segar dan suasana di sana. Orang-orang yang mengajak anjing mereka jalan-jalan, orang-orang yang berolahraga dan bermain bersama anak-anak mereka. Beberapa orang duduk di bangku-bangku di kedua sisi jalan setapak utama, memberi makan merpati atau sekedar melihat pemandangan serta lalu lalang pejalan.

***

Tebakan mereka biasanya benar, bahkan semakin akurat dari waktu ke waktu, penonton bahkan memilih suatu pilihan yang tak mungkin mereka pikirkan sebelumnya. Para produser berusaha keras menanggapi hal tersebut dengan mempersiapkan teka-teki meta di mana segala hal dapat ditelan sepenuhnya, bukan hanya setengah atau sebagiannya. Yang terpenting, mereka terus menghasilkan pendapatan dari iklan, terus mempertahankan penawaran solid dari kanal-kanal streaming utama.

***

Produsernya, seorang perempuan muda berpenampilan menarik, mendekatinya setelah pertunjukan usai dan menepuk bahunya dengan penuh semangat. Dia sangat ekspresif, semua orang menyukainya. Segala sesuatu tentangnya terlihat mewah, rambutnya, kemeja dan sepatunya, rambutnya yang panjang terurai, hitam legam berkilauan, senyumnya yang lebar dan baris giginya yang putih sempurna. Ayo aku traktir makan malam, katanya, aku kelaparan. Dia mencoba tersenyum dan menganggukkan kepala, meski tak merasa lapar sama sekali.

***

Ruang eksperimen itu menghadirkan skenario-skenario dalam bahasa asing, mandarin kali ini, meski bisa pula bahasa lain entah nyata maupun khayalan. Sebuah ruang yang tertutup rapat, sesuatu dalam ruangan itu akan menjalankan teks melalui sebuah otomat sebelum kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan dikirimkan kepada orang-orang di luar ruangan.

***

Bulan-bulan ini, taman itu selalu dipenuhi burung, bukan hanya merpati, tetapi juga gagak, murai, dan beberapa ekor camar. Ia mendekati sekelompok merpati di tepi jalan setapak, ia menduga mereka akan berhamburan pergi, tetapi sebaliknya, mereka hanya menatapnya nanar saat ia berjalan melewati kawanan mereka. Seorang lelaki berlari-lari kecil dari arah yang ia tuju dan burung-burung itu pun seketika menjauh terbang berhamburan.

***

Ia terbangun, tak yakin di mana ia berada dan mencoba menyaksikan sekelilingnya dengan seksama. Cahaya matahari berpendar dari balik tirai jendela yang tampak mahal. Seprainya terasa mahal, mungkin satin. Ia menoleh ke kiri dan menyaksikan perempuan itu di sana, rambut hitamnya yang panjang terurai di atas bantal. Matanya terpejam, ia menyaksikan otot-otot rahangnya menegang dan mengendur di balik pipinya yang putih merona.

***

Beberapa hari kemudian, setelah menyelesaikan proses rekaman, ia pergi ke bioskop untuk memanfaatkan kupon nonton gratis yang ia peroleh dari kantornya. Kali ini sebuah film bisu, sebuah film ekspresionis dari Jerman, sepertinya cocok dengan suasana hatinya yang kini kelabu. Ia mempertimbangkan untuk memesan popcorn, tetapi kemudian merasa jijik. Sebagai gantinya, ia menyelipkan uang ke dalam toples tip ketika kasir membelakanginya. Duduk di tengah teater setengah kosong, menyaksikan seorang rabi mengangkat palu kayu di atas tangannya hendak menghancurkan sebentuk tanah liat di atas lempengan, terhenti saat didatangi para tetua sebelum bisa menyelesaikan pembalasan dendamnya.

***

Pisau memotong benda-benda yang tak seharusnya terpotong, kayu gelondongan, bola bowling, bahkan blok mesin motor 500cc yang kemudian menampakkan lapisan-lapisan bergaris penuh warna di dalamnya. Para penonton menyukainya, para kritikus tak dapat lagi berkata-kata, pertunjukan itu menggambarkan dengan akurat tentang batas-batas yang dijanjikannya tanpa mengklaim apa pun di luar batasan tersebut.

***

Pembicaraan mereka kian intens. Aku ingin mencicipimu! Mulut perempuan itu di telinganya, napas panas di sepanjang lehernya. Ia tak yakin apakah kata-kata perempuan itu telah membangkitkan gairahnya ataukah ia hanya membayangkan tentang gairahnya sendiri pada apa yang ia bayangkan. Mulutnya kian mendekat. Aku ingin menelanmu. Ia memperhatikan seekor lalat terbang zig-zag melintasi langit-langit kamar manakala perempuan itu berulang kali menggigit cuping telinganya.

***

Episode terakhir tinggal beberapa hari lagi, tetapi semua orang di lokasi syuting sibuk membicarakan berita yang mereka baca pagi tadi. Artikelnya sendiri adalah sebuah fitur standar di bagian bawah halaman, tetapi foto yang dipublikasikan bersama narasi picisan tersebutlah yang membuat semua orang heboh membicarakannya; potret tiga sosok perempuan muda berusia dua puluhan, salah seorang dari mereka, dengan kemeja berpotongan pendek, menggigit bibir bawahnya seraya menengok ke belakang ke arah kamera. Mereka berada di jalan setapak yang melintasi taman kota, menoleh ke arah seseorang yang berdiri beberapa meter dari mereka. Orang itu adalah dirinya, berdiri tegak terdiam, melihat ke langit dengan mulut menganga. Anehnya, seekor gagak tampak hinggap di bahunya, menatap jelas ke arah lehernya seolah hendak mematuknya.

***

Ruang eksperimen itu memiliki sebuah mekanisme aneh, bila sebuah benda mati berfungsi sebagaimana makhluk hidup, benda tersebut dapat menunjukkan kesan kehidupan yang sempurna tanpa harus mengalami segala sesuatu yang lazim dikenal sebagai kehidupan, bahkan tanpa mengalami apa pun sama sekali.

***

Apa yang kau lakukan di sana, di taman itu? Tanyanya geram. Tiga hari lagi kau akan berhasil menyelesaikan semuanya dengan baik, astaga, entah apa yang kau lakukan hingga bisa muncul di berita. Dia melemparkan tas genggam kecilnya ke sofa hingga memantul ke atas, membuka syal yang melilit lehernya dan melemparkannya ke sana. Aku tak ingat, jawabnya, saat aku pertama kali melihat foto itu, aku menganggapnya sebagai lelucon. Ia sempat mengiranya sebagai orang lain yang mirip dengannya, tetapi melihat foto itu, jelas itu dirinya sendiri.

***

Perempuan itu kembali membuka laptopnya, berpura-pura memeriksa emailnya, salah satu tab yang terbuka menunjukkan sebuah artikel berisi foto-foto pembedahan hewan, vorarefilia, terus menggulir artikel itu melewati gambar-gambar yang kian menjijikkan.

***

Aneh sekali, ia ingat pulang dari studio hari itu dan tiba di rumah tanpa ada kejadian apa pun sepanjang perjalanan. Satu hari lagi, katanya terisak-isak, menanggalkan pakaian sembari berjalan menghampiri lelakinya, menempelkan wajahnya di leher pria itu. Bertahanlah. Setelah beberapa saat, perempuan itu pun mulai tenang, lelakinya merasakan tubuhnya yang hangat di dadanya, mendengarkannya menarik napas dalam-dalam, hidungnya menempel tepat di bawah telinganya.

***

Burung-burung tak lagi menyingkir saat ia melintas di antara mereka, beberapa bahkan mendekatinya manakala ia diam terlampau lama. Ia mulai menghindari taman itu, memilih trotoar padat dalam perjalannya bekerja.

***

Episode terakhirnya jauh di luar ekspektasi siapa pun; riuh komentar dan keterkejutan. Meski sebagian besarnya sudah dikondisikan sedemikian rupa, tapi kesemuanya tampak begitu otentik. Begitu penonton keluar dan para kontestan diantar untuk menerima hadiah dan menandatangani kontrak mereka, para kru berkerumun mengelilingi meja di tengah studio. Mengejutkan sekali, beberapa hari yang menakjubkan. Ajakan berpesta, gelak tawa yang hangat.

***

Ular dan reptil lainnya lazim menjulurkan kepala ke atas, seolah mengamati bintang-bintang. Kondisi ini bukanlah sebuah penyakit, tetapi indikasi dari beberapa kondisi sekunder lainnya termasuk infeksi bakteri maupun virus, trauma, paparan pada suhu yang ekstrem, atau penyebab lainnya.

***

Di tengah teriakan dan letupan sampanye, perempuan itu duduk di sebelahnya. Seketika bangkit manakala beberapa orang menghampiri mereka. Sama sepertinya, mereka berpenampilan mewah. Jadi ini dia, kata seorang pria paruh baya. Ia berharap mereka segera pergi, ia menyaksikan seorang perempuan di rombongan itu, seseorang yang tampaknya pernah ia lihat sebelumnya, menatap ke arahnya dan perempuan itu pun segera menunduk saat tersadar tengah diperhatikan, pipinya memerah. Dia tak berasumsi apa pun sampai menyaksikan perempuan itu menyeka air matanya, bergetar, mencoba mengendalikan diri dan memulai obrolan dengan sesamanya.

***

Argumen mendasar dari percobaan tersebut adalah sebagai berikut, meskipun terjemahannya sempurna, terjemahan tersebut bukanlah indikasi akan adanya pengetahuan ataupun kesadaran tertentu. Hal ini seringkali dianggap sebagai tandingan terhadap uji Turing, bahwa tiruan kesadaran yang sempurna sekali pun belum tentu merupakan sebuah kesadaran itu sendiri.

***

Botol-botol diangkat, gelas-gelas berdenting di tengah hiruk pikuk tawa. Sang produser kembali berada di sampingnya, lengan kanannya melingkar di pinggangnya, keduanya duduk di salah satu meja di tepi panggung utama, kedua kaki mereka berayun-ayun maju dan mundur bersamaan. Ia menatap lampu di atas kepalanya, mencoba memejamkan matanya saat perempuan itu mendekat, bibirnya menempel di telinganya, aku akan menggigitmu, kali ini aku takkan berhenti melakukannya.

***

Ia kembali mengingat-ingat momen sebelum kejadian itu, ketika ia berbelok meninggalkan taman kota dan seekor anjing berdiri di tengah trotoar, menatap nanar ke arahnya. Anjing itu tidak menggeram ataupun menyerangnya, juga tidak menghindar saat ia mendekat ke arahnya. Anjing itu hanya berdiri dan terus memperhatikannya melanjutkan perjalanan, membuka mulut dan memiringkan moncongnya ke atas untuk mengendus udara saat ia melewatinya.

***

Perempuan itu memiringkan tubuhnya ke belakang untuk memperhatikannya lebih baik, menatap kedua matanya dan tersenyum. Ia tampak memicingkan kedua matanya, antara pengaruh sampanye dan silau lampu di atas mereka. Ia pun melingkarkan kedua tangannya ke leher lelakinya, aku akan mengadakan sebuah pesta besar, teriaknya, sorak sorai pun terdengar, perempuan itu menciumi pipinya dan mendekatkan mulut ke telinganya. Dia terus berbicara, dalam bisikan yang hampir tak terdengar olehnya, ia merasa tak nyaman, di antara rasa takut dan rasa jijik, menengadahkan kepalanya ke atas menatap silau cahaya lampu besar di atas panggung di belakangnya.

***

Ia menyaksikan mereka masih di sana, para petinggi dan orang-orang penting. Salah satu di antara mereka, seorang pria tua berjas hitam, tersenyum lebar dan menatap lurus ke arahnya. Pria itu mengedipkan mata kepadanya, sebelum kembali mengobrol dengan orang-orang di sekelilingnya.

***

Ia teringat judul film yang belum lama ia saksikan, deretan huruf sepia bergoyang di atas layar hitam. Saat yang tepat kini telah tiba! Tetapi untuk apa? Setelah beberapa detik, sosok itu pun muncul, memanggil roh Astaroth, memaksanya untuk mengucapkan mantra.

***

Ia menggerakkan tangan kanannya, berusaha mengusir lalat-lalat dari wajahnya, matanya berkeriap menatap terang lampu di atas panggung. Di pinggiran penglihatannya, di luar lingkar cahaya kerlap-kerlip, samar ia menyaksikan gadis itu, gadis yang ia lihat sebelumnya di pesta ini. Dia pun tersadar, gadis itu adalah salah seorang staff panggung yang selalu menemaninya bekerja. Gadis itu menatapnya dengan ekspresi menyakitkan. Ia mencoba memfokuskan pandangannya, merasakan tubuh produser itu di sisinya, menempel kepadanya, satu tangan melingkari lengannya. Dia mencondongkan tubuhnya untuk berbisik kepadanya. Dia mendengar suaranya yang lembut terengah, mendengar beberapa suku kata asing yang terangkai menjadi sebuah kata yang sepertinya pernah ia dengar sebelumnya, entah beberapa dekade atau beberapa hari yang lalu. Perempuan itu tiba-tiba terhenti sebelum suku kata terakhir terucap dari mulutnya, mengucapkannya sembari gemetar, terengah-engah tak kuasa menahan luapan kegembiraan yang dirasakannya.

***

Segalanya gelap, dalam dan tak berujung. Ia berusaha fokus, mencoba mendengarkan sekelilingnya, mencari suara, tetapi tak ada apa pun, keheningan itu total. Ia masih bisa merasakan tangan perempuan itu di lengannya, tiba-tiba tangan-tangan lain bergabung, mencengkram, menarik, menggerayangi sekujur tubuhnya. Ia merasakan sebuah tangan bergerak naik menjelajahi perut dan dadanya, dingin dan berlendir, berhenti sejenak sebelum mendorong tulang rusuknya. Ia merasakan tangan itu mencengkeram jantungnya, atau suatu tempat di mana jantungnya seharusnya berada, sebelum akhirnya tak merasakan apa-apa lagi.