Di Taman

 

Hal pertama yang ia relakan adalah rambut yang tumbuh di sekujur badannya. Di kursi panjang ruang tunggu ia duduk bersama belasan yang lain, salah seorang yang duduk persis di sebelah kanannya tampak begitu muram, membungkuk bersama selang-selang yang terjulur dari dari kedua lengannya. “Kali ini apa Bang?” Ia mencoba berbasa-basi dengan pria itu. “Kontol…” Jawab pria itu lirih, meringkuk, membenamkan kepalanya di antara kedua kakinya.

Sesampainya di rumah ia membuka lemari es, memandangi interiornya yang elegan, ada rak khusus untuk daging, ada pula rak khusus untuk sayur mayur, ada kompartemen-kompartemen untuk diisi dengan berbagai bahan makanan lain. Ia tidak lapar sekarang, udara dingin terasa yang menerpa wajahnya terasa begitu nyaman, ia mulai mengantuk. Setelahnya, ia mandi dengan air dingin dan bergegas tidur.

Pagi itu begitu dingin. Dia meringkuk di dalam selimutnya, telanjang, memandangi bantal dan membayangkan ada rambut terurai di sana. Tak ada apa pun. Setelah minum segelas air, ia mengenakan pakaiannya dan beringsut ke gudang, melewati tumpukan kardus dan berbagai macam perabot bekas yang teronggok di sana. Tak butuh waktu lama hingga ia menemukan yang ia cari, sebuah topi hitam berlogo universitas tempat ia memperoleh gelar sarjananya dahulu. Meski warnanya telah memudar, ternyata topi itu masih begitu nyaman di kepala botaknya sekarang.

†††

Yang berikutnya adalah kedua tumitnya. Ia merasa teman kerjanya di kantor sangat pengertian dengan kondisinya yang sekarang. Meski dokter menyarankannya untuk beristirahat di rumah, ia tetap bersikeras untuk masuk kerja. Teman-temannya berulang kali memuji keberaniannya, beberapa di antara mereka bahkan memaksa untuk membuatkan secangkir teh dan membawakan makan siang ke meja kerjanya. Pimpinannya sempat mampir menghampirinya dan mengucapkan selamat meski sebagian besar laporan yang harus ia selesaikan kini telah melewati tenggat. Tak ada yang bergunjing tentangnya meski ia berulang kali izin ke toilet, mereka juga berusaha untuk tak mengganggunya dengan suara-suara bising, dari lorong menuju toilet ia mendengar gelak tawa dan gurauan-gurauan, tetapi ruangan seketika hening saat ia membuka pintu dan masuk ke dalam.

Siang itu ia duduk di kloset dan merasakan gatal di ujung tumit kirinya, ia membuka sepatu dan kaus kakinya untuk menggaruknya, tetapi tumitnya tak ada di sana. Ia mencoba memeriksa isi kaus kakinya, tetapi keduanya kosong tak berisi apa-apa.

†††

Ketika ia kehilangan kedua telinganya, ia memutuskan untuk mengganti topi yang biasa ia kenakan dengan sebuah kupluk hitam. Pancaroba akan segera tiba dan pagi semakin dingin, selain hangat, kupluk itu juga menutup apa yang kini telah hilang darinya.

Salah seorang kawannya menghubunginya lewat telepon, menanyakan kabarnya yang sudah lama tak terlihat di pub malam. Setengah jam kemudian, ia datang bersama tiga orang lainnya dengan membawa belasan kaleng bir. Salah seorang di antara mereka mengulurkan sekaleng bir padanya, ia memegangnya dengan kikuk, menggunakan kedua tangannya yang tak utuh, masing-masing hanya tersisa satu ruas dari kesepuluh jari-jarinya.

Mereka berempat duduk di ruang tengah bersamanya, minum bir, terdiam, mencoba menemukan pertanyaan-pertanyaan lain yang masih bisa ditanyakan padanya. Kesemuanya tampak kikuk, berusaha tak terlalu sering memandangi wajahnya yang kini hampir rata. Akhirnya salah seorang dari mereka menyalakan televisi dan mereka mulai mengomentari berita.

Ia kembali berbaring di kasurnya setelah mereka pergi. Menerawang memandangi langit-langit kamar, meraba dadanya, melewati tempat di mana dulu pusatnya berada, turun ke bawah menuju selangkangannya, turun ke bawah menuju kosong yang tersisa di sana.

†††

Beberapa hari kemudian ia kembali lagi ke klinik itu. Pria yang biasa duduk di sebelah kanannya kini tak pernah terlihat lagi, ia tak pernah lagi melihatnya sejak tiga kunjungan terakhirnya. Ia mencoba mengingat wajah pria itu lagi, ia mencoba mengingat namanya kembali, tetapi tak ada ingatan tentangnya yang muncul terpanggil dari dalam ingatannya, ia hanya dapat menyaksikan kursi yang biasa ditempatinya, kosong.

Pria di sebelah kirinya masih memandanginya, “Hari ini gigi ya?” Tanya pria itu padanya.

Saat itu ia masih hanyut dalam lamunan, tak sepenuhnya sadar pada apa yang dikatakan pria itu, tidak sampai pria itu menarik tangan kanannya dan memasukkan jemarinya ke dalam mulut—halus, kenyal, hanya ada gusi dan air liur yang mulai menjalari lengan kanannya.

Sesampainya di rumah ia bergegas menuju ke depan cermin. Ia tampak pucat, hampir transparan seolah cahaya tak menyadari keberadaanya.

†††

Pagi itu ia berjalan menuju taman kota. Berlari dan berjingkat kecil melewati trotoar; memandangi rerumputan, semak-semak, dan pepohonan rindang. Ia melepas kupluknya, kemudian jaketnya, melemparkan keduanya di trotoar jalan. Ia meneruskan langkahnya. Ia melepaskan kemejanya, lalu celana jins dan pakaian dalamnya. Sejenak ia mendongakkan badannya ke atas, merentangkan kedua lengannya, merasakan hangatnya matahari pagi, begitu nyaman, begitu ringan.

Hal terakhir yang polisi temukan adalah sepasang sepatu dan kaus kaki miliknya, tergolek begitu saja di tengah taman kota.